“Adakah Tuhan di Hatimu, Jenderal?”
Tuhan itu tidak pernah tidur wahai Jenderal!
Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang
dan tidak ada satupun manusia sanggup menandingi kekuatan-Nya
tidak pula bisa kau beli Dia, Jenderal!
Tuhan menciptakanku bukan sebagai manusia sia-sia
Sebenarnya bukan pula untuk mu
Tapi kamu-lah yang menyiakan semua, Jenderal!
Hanya karena nafsu, ambisi dan angkara
Boleh kau pecundangi aku, Jenderal!
Silakan saja
Aku tidak akan membalasnya
Buat apa, hanya menambah dosaku saja
Tapi ingat Jenderal!
Semua perilakumu berbuah hasil yang akan kaupetik
Yang senantiasa diperiksa Tuhan ketika engkau tertidur
Betapa banyak uang kau rampas dari kami
Betapa banyak duka dan tangis kau guyurkan kepada kami
Betapa banyak kesempatan kau rebut dari kami
Jangan pernah kau coba tersenyum, Jenderal
Sebelum kau sanggup berikan ketulusan diantara senyum
Apa yang kau cari di muka bumi ini, wahai Jenderal!
Apakah kekuasaan?
Atau kematian?
Jangan khawatir, Jenderal!
Tidak ada yang kekal disini
Hanya Dia-lah Pemilik Kekekalan itu
Jangan takabur, Jenderal!
Jangan berpura-pura kau sembah Dia 5 waktu sehari di masjid, sekali seminggu di gereja, atau setiap saat di Kelenteng, Pura, Vihara
Jangan sekalipun kau coba bermuka manis di depan Tuhan
Karena Tuhan lebih tahu segalanya
Kau punya hati, nggak, wahai Jenderal!
(arleynova in blue. fri-end of february 2008)